AGAMA
BUDDHA DAN KAITANNYA TERHADAP INDONESIA
Indah
Kiki Yuliana
Indonesia merupakan salah satu negara di
kawasan Asia Tenggara yang di dalamnya terdapat beraneka ragam kepercayaan dan
agama. Beberapa agama yang dimaksud diantaranya adalah Islam, Kristen,
Katholik, Hindu, Buddha, Konghuchu dan berbagai macam kepercayaan yang sifatnya
masih kolot (animisme, dinamisme). Semua agama yang ada di Indonesia sudah
diakui oleh pemerintah dan dijadikan suatu kekhasan tersendiri yang hanya
dimiliki oleh bangsa Indonesia, terutama juga dengan agama Buddha. Agama buddha
yang berkembang di Indonesia ternyata banyak pengikutnya yang dibuktikan dengan
banyaknya pengikut saat upacara-upacara keagamaan untuk agama Buddha seperti
Waisak yang sering diselenggarakan di Candi Borobudur. Selain diketahui dari
hal tadi, juga bisa diketahui dari sebuah perkumpulan yang terdiri hanya untuk
orang-orang Buddha yakni PERBUDI (Perhimpunan Budhist Indonesia).
Agama
Buddha merupakan agama yang asli lahir di kawasan Asia Selatan, yang muncul
karena adanya perpecahan dari agama utamanya yakni Hindu yang mendominasi. Pembawa
ajaran agama suci ini adalah seorang keturunan dari Raja yang berada di kota
Kapilavastu bernama Sidharta Gautama yang memiliki nama kecil Gautama
Sakyamukti. Perkembangan agama Buddha masih tetap terlihat, itu di negara
Srilanka yang bukan termasuk kawasan India. Namun, seiring perkembangan zaman
agama Buddha mulai sedikit bergeser pengaruhnya ke kawasan Asia Timur dan Asia
Tenggara, dan Indonesia termasuk di dalamnya.
Awal Agama Buddha
Sekitar 800 tahun SM di kawasan Asia
Selatan tepatnya di India, masyarakat India hanya mengenal satu petunjuk yang
bisa mengantarkannya untuk mencapai mokhsa (Kesempurnaan Jiwa) sesuai ajaran
dari Veda (kitab suci) dan para Brahmana. Ajaran-ajaran yang disampaikan oleh
para Brahmana saat itu disalahgunakan, yakni dengan membumbui ajaran tadi
dengan kekuasaan (politik) yang akhirnya menimbulkan kritik-kritik atau respon
dari masyarakat yang menentang ajaran-ajaran dari kaum Brahmana atau pendeta yang sudah tidak sesuai lagi. Adanya kasta
atau pelapisan dalam masyarakat mulai dari tingkatan yang paling atas dan
paling mulia sampai dengan tingkatan yang paling bawah dan hina. Hal
tersebutlah yang akhirnya memunculkan agama baru yang pada awalnya bernama Upanisad yang memiliki arti “ Duduk Di kaki Sang Guru Yang Mengajarkan
Doktrin-Doktrin Yang Bersifat Esoteris” yang mengalami proses menuju
sesuatu yang lebih praktis yang berupa ajaran untuk mencapai moksha yang lebih
praktis yang dikenal dengan ajaran agama Buddha. Tokoh yang mempunyai andil
besar dalam proses penyebaran agama Buddha
yakni Sidharta Gautama yang lahir sekitar 563 SM di kota Kapilavastu, di
daerah Kosala, di lereng Gunung Himalaya, Nepal yang merupakan anak dari
seorang raja bernama Sudhodhana dan dewi Maya.
Kelahiran dari Sidharta Gautama ini
merupakan anugerah terindah yang pernah dimiliki oleh raja Sudhodhana dan dewi
Maya, karena selang beberapa jam setelah kelahirannya dipercaya Sidharta yang
memeiliki nama kecil Gautama Sakyamukti ini bisa berjalan 6 langkah di atas
bunga tratai. Selain itu juga ada ramalan dari seorang pendeta yang bisa
melihat masa depan bahwa suatu saat nanti Sidharta akan menjadi seorang pendeta
yang agung dan dikenal oleh masyarakat. Ramalan tersebut membuat raja
Sudhodhana sedikit lebih intensif dalam menjaga Sidharta agar jangan sampai
keluar dari kerajaan dan melihat dunia luar. Namun, usaha yang dilakukan oleh
raja Sudhodhana tersebut sia-sia karena Sidharta memutuskan untuk pergi dan
melihat dunia luar yang baru ia tahu. Sidharta melihat kehidupan luar yang
kejam itu diantaranya orang tua, orang sakit, orang mati dan para pendeta yang
akhirnya membuat dia meninggalkan kehidupan yang serba mewah di dalam istananya
dan pergi untuk mencari kesempurnaan jiwa (Moksha) dengan melakukan pertapaan
di bawah pohon bodhi yang berada di Bodhgaya yang membuat dia mengalami
pencerahan bathin dan ilmu yang digunakan untuk khotbah pertama dia tentang
Dharma/Buddha di Benares yang sering disebut dengan Catur Arya (Satyani) yang
diantaranya:
- Hidup di dunia adalah sebuah
kesusahan/penderitaan
- Kesusahan/penderitaan akan
timbul karena terlalu senang dengan duniawi
- Jika sikap senang tersbut
dihilangkan, maka kesusahan/penderitaan juga akan hilang
- Dan untuk menempuh hal
tersebut ada 8 macam jalan yang harus dilewati yang dinamakan jalan
kebenaran.
Agama Buddha dalam perkembangannya
mengalami perpecaran menjadi dua aliran baru yang terkenal yakni Buddha
Hinayana dan Buddha Mahayana. Agama Buddha mulai berkembang menjauhi negara
dimana dia dilahirkan dan mengarah ke bagian Asia Timur dan Asia Tenggara yang
mempunyai dua jalur yang dilewati yakni:
- Jalur
Utara: Nepal, Tibet, Tiongkok, Korea, Jepang,
Mongolia, dan Siberia.
- Jalur
Selatan: Celon (Srilanka), Birma,
Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia.
Berkembang di kawasan
Indonesia
Pada awalnya diketahui bahwasannya
wilayah Indonesia juga terkena unsur persebaran dari agama Buddha sendiri
ditunjukkan karena ada bukti dari berita asing Tiongkok yang menyebutkan bahwa
pernah ada pendeta yang bernama Gunavarman dari lembah Khasmir yang datang ke
Cho-po (Sumatera). Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan peninggalan kerajaan
Srivijaya yang merupakan kerajaan penganut Buddha yang lebih spesifik kepada
Buddha Mahayana. Pembuktian ini ternyata dikomparasikan dengan penemuan lain
juga di Indonesia yakni di Pulau Jawa yang telah ada sebuah kerajaan besar
dengan perbedaan wangsa yang hidup berjajar, yakni Wangsa Sailendra dari
kerajaan Mataram Kuno yang dapat diketahui bahwasannya wangsa tersebut
merupakan wangsa besar dengan raja-raja besar, hasil budaya yang megah dan
pengaruh agama yang kuat yakni agama Buddha.
Perkembangan agama Buddha di Indonesia
terlihat dari berbagai macam kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang pernah muncul,
berjaya, dan musnah di Indonesia yang semuanya tidak hanya Hindu saja,
melainkan Buddha maupun keduanya. Kerajaan-kerajaan Buddha waktu itu
diantaranya:
- Kerajaan Srivijaya (Sumatera)
kerajaan ini merupakan kerajaan yang
terkenal dengan kerajaan yang penganut Buddhanya paling banyak dibuktikan
dengan banyaknya bangunan vihara yang didirikan masa kerajaan Srivijaya sebagai
tempat tinggal bhiksu. Masa itu, kerajaan Srivijaya disebut juga dengan
kerajaan sebagai pusat agama Buddha yang terbesar di Asia Tenggara karena di
kerajaan Srivijaya ada perguruan tinggi yang khusus mengajarkan tentang budaya
India secara keseluruhan. Di kerajaan Srivijaya juga pernah dibuktikan ternyata
memang pernah ada seorang guru besar agama Buddha yang diantaranya Sakyakirti,
Dharmakitri, dan Dharmapala yang sebelumnya ketiganya belajar di perguruan
tinggi Nalanda (Ligor, India) mengenai perdalaman untuk agama Buddha dan bahasa
Sanskerta.
Selain dari situ juga bisa diketahui
lagi dalam Prasasti Nalanda yang berangka tahun 860 M yang isisnya menyangkut “pembebasan
pajak beberapa desa dimaksudkan agar bisa memberikan nafkah pada para bhiksu
dalam sebuah vihara yang dibangun oleh Balaputeradewa (dari Wangsa Sailendra,
Mataram Kuno, Jawa Tengah)”. Ada lagi juga bukti yang bisa dijadikan bukti
bahwa di kerajaan Srivijaya pernah ada agama besar yakni Buddha yang merupakan
agama pendominasi di kehidupan masyarakat yang terdapat dalam Prasasti Ligor A yang
berangka tahun 775 M yang berisi tentang “seorang raja dari Srivijaya bersama
kepala bhiksu mendirikan tempat pemujaan Mahayana, yang terdiri banyak gedung”.
Dari kedua prasasti tersebut ada juga pengaruh lain yang menyebutkan bahwa raja
keturunan Sailendra yang bernama Samaratungga senang sekali membangun kuil 10
undak yang merupakan pemangku bhumi Srivijaya, sedangkan puterinya mendirikan
bangunan Jinalaya.
- Kerajaan Mataram Kuno (Wangsa Sailendra)
Kerajaan Mataram Kuno secara umum ada
dua wangsa yang memerintah yang juga berbeda keyakinannya, Wangsa Sanjaya lebih
ke arah Hinduisme dan Wangsa Syailendara lebih kepada keyakinannya Budhisme.
Perbedaan ini juga lebih mengarah kepada daerah kekuasaan masing-masing wangsa
yang dimana Sanjaya menguasai Jawa Tengah bagian utara dan Sailendra sebagian
Jawa Tengah bagian selatan (Jogjakarta).
Wangsa Sailendra merupakan wangsa yang
masih ada kaitannya dengan kerajaan Sriwijaya yang berada di Palembang, Sumatera
yang keduanya merupakan penganut Buddha. Sailendra merupakan wangsa besar yang
meninggalkan banyak hal yang bisa kita teliti yang diantaranya prasasti,
candi-candi yang bisa menjelaskan mengenai Sailendra secara lengkap. Sailendra
merupakan wangsa yang lebih menganut kepada jaran agama Buddha yang bisa
diketahui dari banyak peninggalannya yang diantaranya:
-
Prasasti Kelurak yang berangka tahun 782
M yang berisi tentang pembangunan kuil atau bangunan suci untuk bhoddisattva
dan sekaligus arca Manjusri yang ditulis dengan huruf Pranagari berbahsa
Sanskerta oleh Raja Sailendra yang bernama Indra.
-
Prasasti Karang Tengah yang berangka
tahun 824 M yang berisikan tentang 3 orang raja dan 3 bangunan suci agama
Buddha, yang diantaranya:
a.
Raja Samaratungga yang pernah mendirikan
bangunan kuil 10 tingkat (Candi Borobudur)
b.
Pramodhawardhani pernah mendirikan
Jinalaya untuk ayahnya (Candi Pawon) dan membebaskan pjak tanah di sekita
bangunan suci untuk pemeliharaan Bumisambharu (Candi Borobudur)
c.
Raja Samaratungga yang juga pernah
mendirikan kuil yang bernama kuil Venuvana (Candi Mendut)
Dari ketiga penjelasan yang terdapat di
dalam Prasasti Karang Tengah tadi dapat disimpulkan bahwasannya hasil
peninggalan dari Wangsa Sailendra adalah Buddha. Ketiga rentetan candi tadi
merupakan gambaran perjalanan Sidharta Gautama saat masih ada di Bhumi, yakni
Candi Mendut sebagai awal gambaran Sidharta lahir di Kapilavastu, di daerah
Kosala, yang juga dilambangkan sebagai tempat Sidharta menerima pencerahan di
bawah pohon Bodhi yang berada di Bodhgaya. Yang dibangun sekitar abad ke IX
yang memiliki arca utama yakni Bodhisattva Avalokitesvara, Dhyani Buddha
Vairocana, Bodhissattva Vajrapani yang semua itu merupakan lambang dari agama
Buddha.
Setelah itu untuk Candi pawon merupakan
gambaran dari perjalanan Sidharta dalam menyampaikan ajarannya untuk pertama
kali di daerah Benares. Candi Pawon ini dibangun sekitar abad ke-8yang
bercirikan adanya Avaloikitesvara untuk dewi Tara yang juga terdapat ornamen
Kinara dan Kinari. Candi Borobudur digambarkan sebagai titik terakhir dari
perjalanan Sidharta dalam menyebarkan ajaran agama Buddha sampai saat
kematiannya yang digambarkan di Candi Borobudur sebagai tempat kematiannya
yakni di Kusinagara. Ketiga Candi tersebut mempunyai kaitan yang sangat unik
yakni saat ada upacara-upacara keagamaan untuk Buddha, yang dimulai dari Candi
Mendut, Candi pawon dan puncaknya di Candi Borobudur sebagai gambaran
perjalanan Sidharta Gautama.
Selain dari ketiga candi tersebut masih
banyak peninggalan-peninggalan dari Wangsa Sailendra (Buddha) seperti Candi
Kalasan, Kelompok Candi Sewu, Candi Plaosan Lor, dan Keraton Ratu Boko (sebagai
vihara). Dari bukti-bukti inilah dapat diketahui bahwasannya perkembangan agama
Buddha sudah sampai di Indonesia sejak masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
dan tidak menutup kemungkinan juga bisa jadi sebelum kerajaan terbentuk serta
perkembangannya sampai sekarang di zaman yang modern. Kerajaan yang juga
beragama Buddha selain kerajaan Srivijaya dan Mataram Kuno Wangsa Sailendra
juga masih ada kerajaan Kalingga (Ho-ling) dan bahkan ada juga yang
mencampurkan agama Buddha dengan Hindu seperti kepercayaan raja-raja di
kerajaan Singhasari (Sinkritisme), yakni Kertanegara.
Penutup
Agama Buddha merupakan agama yang muncul
karena perpecahan dari agama asli yang ada di India yakni agama Hindu yang sudah
dianggap tidak sesuai lagi ajarannya dalam artian sudah disalahgunakan oleh
kaum Brahmana. Agama Buddha lahir tidak menganggap adanya perbedaan antara
sesama karena mereka itu sama, dan di agama Buddha tidak mengenal kasta atau
pelapisan sosial masyarakat. Agama Buddha memang lahir di kawasan Asia Selatan,
namun dalam perkembangannya justru lebih banyak mengarah ke Asia Timur dan Asia
Tenggara dan Indonesia masuk di dalamnya.
Perkembangan agama Buddha di Indonesia
diperkirakan sudah maju dan sudah menyebar luas. Pembuktiannya berupa
kerajaan-kerajaan yang bercorak Buddha seperti kerajaan sriwijaya di Palembang,
Sumatera yang merupakan kerajaan sebagai pusat pengajaran agama Buddha, di Jawa juga terdapat kerajaan besar juga yakni
Mataram Kuno namun dari Wangsa Sailendra sebagai penganut agama Buddha, dan
kerajaan Kalingga (Ho-ling) serta kerajaan-kerajaan yang mencampur adukkan
ajaran Buddha dengan Hindu seperti raja-raja Singosari meskipun tidak semuanya.
Perkembangan agama Buddha ini melahirkan banyak sekali peninggalan-peninggalan
yang bisa dijadikan referensi ulang dalam mempelajari kerajaan-kerajaan
tersebut, dan bisa dijadikan suatu bukti bahwasannya pengaruh agama Buddha juga
sampai di Indonesia yang kala itu masih bernama Nusantara.
Daftar Pustaka
Hardjowardojo,
D. 1979. Warna Sari Sejarah Indonesia
lama. Malang: FKIS Jurusan sejarah, IKIP Malang Pusat.
Meulen,
V. D. 1974. Di Sekitar Persoalan Sailendra-Vamsa.
Malang: Tri Daya.
Su’ud, A. 1988. Memahami Sejarah Bangsa-Bangsa Di Asia
Selatan: Sejak masa Purba Sampai Masa Kedatangan Islam. Jakarta: Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.